Mundurnya ketua KONI kabupaten Malang memiliki catatan besar, maski alasan resmi pengunduran diri adalah kegagalan masuk 3 besar di Porprov Jatim 2025. Padahal, Kabupaten Malang berstatus sebagai tuan rumah.
Kehilangan Momentum Sebagai tuan rumah, seharusnya ada keuntungan psikologis dan fasilitas. Jika gagal di kandang sendiri, ini menunjukkan ada yang salah dalam strategi pemusatan latihan puslatkab atau seleksi atlet. Efek Domino Kegagalan ini menunjukkan bahwa 68 cabang olahraga (cabor) yang ada tidak tersentuh pembinaan yang merata. Prestasi olahraga tidak bisa instan; ia adalah hasil dari investasi jangka panjang yang tampaknya absen di KONI Kabupaten Malang.
Hal yang paling krusial dan membuat publik geram bukan hanya soal medali, tapi soal transparansi anggaran.
Penyidikan Kejaksaan kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang saat ini sedang mendalami dugaan penyimpangan dana hibah periode 2022-2023. Jika LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) tidak sesuai dengan RAB (Rencana Anggaran Biaya), ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap atlet.
Anggaran Minim atau Salah Urus? Pihak KONI sempat mengeluh anggaran tahun 2026 turun menjadi Rp1,4 miliar. Namun, logika publik sederhana, Bagaimana pemerintah mau menambah anggaran jika dana yang miliaran sebelumnya saja masih bermasalah secara hukum?
Bupati malang melontarkan pernyataan yang kita bisa tafsirkan keras, HM Sanusi menyampaikan untuk kepengurusan KONI yang baru jangan sampain bermain main dengan aggaran yang bersumber dari uang negara.
Mundurnya pimpinan di tengah proses hukum yang berjalan seringkali dipandang publik sebagai upaya “lepas tangan” atau bentuk rasa frustasi karena sistem yang sudah terlanjur rusak dari dalam. Fokus yang Terpecah Sulit bagi atlet untuk berprestasi jika organisasi induknya sibuk berurusan dengan panggilan jaksa. Regenerasi yang Terhambat Dengan anggaran yang “disunat” dan kasus hukum yang membayangi, calon ketua baru di Muscablub mendatang akan memikul beban sejarah yang sangat berat untuk memulihkan nama baik organisasi.
KONI Kabupaten Malang kini berada di titik nadir. Mundurnya ketua mencerminkan puncak gunung es dari persoalan yang jauh lebih besar, yaitu krisis integritas. Pengelolaan anggaran yang tidak dibenahi dan transparansi yang tidak dibuka lebar akan terus menghambat kebangkitan prestasi olahraga Kabupaten Malang, berapa kali pun pergantian ketua terjadi.
Selain itu, pembinaan atlet yang merata menjadi pembenahan penting yang harus dilakukan. Kabupaten Malang memiliki potensi besar untuk melahirkan atlet di berbagai cabang olahraga, karena jumlah penduduknya yang besar. Potensi tersebut akan berkembang jika semua cabang olahraga mendapatkan pembinaan yang serius dan merata.
*Oleh: Hotib
*Penulis Merupakan Penasehat Organisasi Inisiatif Pemuda, Serta Mantan Ketua Umum PC PMII Kabupaten Malang 2023-2024

















